Gapai cita mu nak.

21 04 2012

Berbulan-bulan kami sudah saling mengenal, dari semenjak bertemu kami tahu akan potensi yang ada didirinya.
Dirinyalah yang bernama Rizka, anak  pintar nan patuh terhadap kedua orang tua. Dari rizka lah kami mendapatkan anak-anak lain yang harus diselamatkan pendidikannya.
Saat itu rizka memang memiliki tubuh yang rentan sakit, beberapa kali kami berkunjung rizka seringkali sakit. Semakin hari tubuhnya pun mengecill.
Menurut sang ibu, rizka memang seorang yang suka memendam perasaannya. Rasa kecewa dengan ayahnya yang membuat rizka berpikir keras bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama ke3 adiknya yang lain. Rizka memang dilahirkan dari keluarga yang tidak mampu, bahkan rumahnyapun kontrakan yang belum dibayar beberapa bulan, sampai satu ketika kami berkunjung lampu pun padam karena tunggakan yang sudah terlalu lama.
Gw sayang banget dengan anak ini, dia adalah icon Gapai Cita yang memberikan api penyemangat untuk selalu bertahan mencari donatur untuk bisa membantu anak yang lainnya. Beberapa kali gw sendiri membangga-banggakan rizka didepan keluarga dan teman-teman, pernah kami jalan berdua ke toko buku di bintaro. Awalnya memang rizka malu-malu tapi kemudian dia sudah tahu pasti buku mana yang akan dibeli.
Sepanjang perjalanan pulang, rizka masih terasa begitu senang… senyuman terus dipancarkan sampai kita sampai rumah rizka.
Tidak lama kami mendapat kabar kalau rizka sedang sakit, dan gw pun dapat sms langsung dari bibinya yang meminta doa agar rizka cepat diberikan kesembuhan. Saat itu memang sempat terjadi kesalah pahaman antara salah satu orang tua binaan gapai cita dengan kakak ipar gw. Dimana yang salah adalah kakak ipar gw dan dia pun sudah meminta maaf.

Pagi setelah mendapat sms itu gw berangkat kerja seperti biasa, sampai dengan jam 10 gw mendapat sms klo rizka telah meninggal dunia.

Gw hanya bisa terdiam, bingung dan lalu menangis dalam hati. Segera gw minta izin pulang cepat lalu menjemput istri lalu kami kerumah rizka.
Malang benar nasib rizka yang sempat ditolak dibeberapa rumah sakit karena tidak memiliki biaya dan tidak bisa menunjukan kartu tanda miskin, sebenarnya ibunnya rizka pernah mencoba membuat surat tanda miskin, tapi prosesnya gagal kerana harus bayar biaya yang gw lupa jumlahnya… hanya orang sinting yang meminta biaya administrasi kepada orang yang mau membuat surat tanda miskin.

Rizka sempat mendapatkan perawatan medis, sempat pula keadaanya berangsur baik. Baiknya keadaan rizka langsung berubah drastis saat pagi tiba, sampai rizka meninggal degan tenang dirumah sakit.

Meningggalnya rizka memberikan pukulan yang dalam untuk gw, ditambah management gapai cita yang tidak memiliki cash in dan cash out yang jelas gw memtuskan untuk resign dari gapai cita.





Pelayaran : Bertahanlah Geneva.

19 09 2010

Ini adalah tahun ketiga sejak pertama kali gw memutuskan untuk berlayar, saat ini juga sudah dua tahun lamanya semenjak pertemuan dengan Brahmang yang sangat berkesan itu. Saat ini juga pelayaran pun masih dilanjutkan, dengan beberapa anak buah kapal saat ini gw sudah memiliki sebuah kapal yang memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan saat pertama kalinya memulai pelayaran ini.

Seringkali saat kami melalui sebuah perairan yang sangat panjang dan tak bertepi, kami menghabiskan waktu dengan mengobrol. Mengobrol apa saja, dari hal-hal yang penting sampai dengan hal-hal yang tidak penting sama sekali. Dari banyak sekali topik pembicaraan kita, ada satu buah topik yang sangat menarik, setidaknya bagi gw sendiri. Read the rest of this entry »





Pelayaran : kisah Brahmang

14 06 2009

Empat bulan sudah gw menginjakkan kaki dipelabuhan ini, sebuah pelabuhan yang memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh pelabuhan yang lain. Ada banyak sekali hal yang gw temukan selama tinggal disini, namun hanya  satu yang paling menarik dari semua hal yang pernah terjadi di pelabuhan ini.  Saat itu terjadi ketika sang penguasa pelabuhan membuat pengumuman guna mencari seorang awak kapal untuk bekerja dikapal mewahnya, uniknya tidak ada batasan umur dalam pengemuman tadi.

Setelah beberapa hari,  saat gw duduk memandang kapal-kapal yang sedang berlabuh, gw bertemu dengan seorang pria yang sudah cukup berumur dengan rambut putihnya berjalan tegap dengan wajah bersahaja menghampiri gw, lalu bertanya “maaf, dimana saya bisa bertemu dengan penguasa pelabuhan ini?” dengan agak bingung langsung aja gw tunjukan arah jalan menuju kerumah si penguasa itu, tapi setelah menjelaskan panjang lebar sepertinya orang tua ini bingung sekali, terlihat dari wajahnya yang agak susah mengenali wilayah ini. Tanpa banyak bicara lagi gw antarkan saja orang tua ini ketempat yang dia tuju. Read the rest of this entry »





Hidup berlayar

10 03 2009

Hidup ini bagaikan mengarungi sebuah sungai, dimana terdapat banyak sekali tikungan, mulai dari tikungan tikungan yang tidak berarti hingga tikungan yang tajam. Setiap kita melewati sebuah tikungan maka kita akan menemui kehidupan baru, kehidupan yang merubah diri kita, entah menjadi baik atau semakin buruk.

Jumlah tikungan dalam sungai ini sungguh bergantung kepada diri kita masing-masing, sungguh bergantung kepada seberapa kemauan kita dan kepuasan kita dalam berlayar, adakalanya seseorang menemui banyak sekali tikungan hingga menjadi lupa akan seberapa jauh dia berlayar dan sampai manakah dia akan berlayar, tidak perduli seberapa deras arus, tidak perduli seberapa parah layar rusak, ia tetap melaju. Read the rest of this entry »





Bukan cerita Uang.

23 01 2009

Sulit bagi gw meninggal kan semua ini, semua yang sudah sangat nyaman dan ideal.  Tapi gw belum punya cukup cerita untuk anak dan keluarga gw nanti, sebuah cerita yang bisa dibanggakan dan membuat mereka ingin meniru nantinya.  Dan gw pikir sebuah cerita yang dapat dibanggakan tidak akan cepat datang selain kita menjemputnya, dan cerita ini pasti tidak berhubungan dengan berapa rupiah yang kita terima, karena bekerja memang bukan untuk uang semata.

Read the rest of this entry »





Merah Saga

30 12 2008
Album : Tak Kenal Henti
Munsyid : Shoutul Harokah
Sumber://liriknasyid.com
Saat langit berwarna merah saga
Dan kerikil perkasa berlarian
Meluncur laksana puluhan peluru
Terbang bersama teriakan takbir

Semua menjadi saksi
Atas langkah keberanianmu
Kita juga menjadi saksi
Atas keteguhanmu

Ketika yahudi-yahudi membantaimu
Merah berkesimbah ditanah airmu
Mewangi harum genangan darahmu
Membebaskan bumi jihad palestina

Perjuangan telah kau bayar
Dengan jiwa, syahid dalam cinta-NYA





Ini Variable Gw

23 12 2008

Ada beberapa orang yang pernah bilang “wuis jenggotan…” terus gw jawab aja “ini variable….”
Dan mungkin mereka ga ngerti, dan beberapa juga ga mau tau apa maksud gw itu. Dulu waktu dikampus, gw seneng banget pakai jaket hijau dengan Emblem HAMAS, dan jaket itu hampir setiap hari dipakai kemana-mana, karena gw pikir saat itu jaket gw itu variable gw. Tapi sekarang berasa tidak enak ketika kita masuk kantor dengan embelm yang demikian.  Sebenernya hal ini berawal dari waktu awal-awal gw menjabat sebuah jabatan di Organisasi Kampus, gw dapet nasihat dari salah seorang alumni sholeh, “Sekarang antum udah menjabat menjadi Read the rest of this entry »