Pelayaran : Bertahanlah Geneva.

19 09 2010

Ini adalah tahun ketiga sejak pertama kali gw memutuskan untuk berlayar, saat ini juga sudah dua tahun lamanya semenjak pertemuan dengan Brahmang yang sangat berkesan itu. Saat ini juga pelayaran pun masih dilanjutkan, dengan beberapa anak buah kapal saat ini gw sudah memiliki sebuah kapal yang memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan saat pertama kalinya memulai pelayaran ini.

Seringkali saat kami melalui sebuah perairan yang sangat panjang dan tak bertepi, kami menghabiskan waktu dengan mengobrol. Mengobrol apa saja, dari hal-hal yang penting sampai dengan hal-hal yang tidak penting sama sekali. Dari banyak sekali topik pembicaraan kita, ada satu buah topik yang sangat menarik, setidaknya bagi gw sendiri.

Topik ini adalah tentang Geneva, Geneva merupakan sebuah lahan kosong yang sangat indah terletak diantara dua buah bukit. Salah satu bukit berukuran lebih besar dibanding yang satunya lagi, dan yang ukurannya lebih besar inilah yang selalu memberikan keteduhan dan kerindangan untuk Geneva, tapi berbeda dengan bukit yang satunya lagi, bukit kecil ini selalu memberikan kecemasan kepada siapapun yang berkunjung kesana, walaupun terlihat sedikit indah, bukit ini menyimpan bahaya, sewaktu-waktu bukit ini mengeluarkan gas beracun yang sangat berbahaya, selain itu bukit ini juga kadang mengeluarkan suara-suara retakan yang keras sekali sehingga banyak orang bercerita bahwa Geneva sangatlah tidak aman.

Sungguh sangat menarik, membayangkan sebuah tanah yang indah berikut dengan ancaman-ancaman yang terdapat didalamnya. Sampai dengan kami membicarakan Geneva saat itu, Geneva sudah lama sekali menjadi sebuah daerah yang sangat sepi dan senyap.

Jujur dalam hati ketika mendengarkan hal itu, ingin sekali gw menyambangi Geneva. Tapi apa daya, jarak yang terlampau jauh sepertinya tidak memungkinkan untuk kesana, terlebih lagi beberapa anak buah kapal mengusulkan beberapa daerah yang lebih aman dan tidak kalah indahnya. Sempat juga gw melihat daerah-daerah yang meraka usulkan itu, tapi justru beberapa daerah yang diceritakan hanya menyimpan keindahan yang semu, malah kadang menipu.

Hari-hari dijalani diatas kapal, rasa bosanpun kadang terlalu berat untuk dihindarkan. Ketika saat-saat seperti itu muncul tak ada lain yang bisa gw kerjakan selain membaca dan menulis beberapa puisi, beberapa puisi yang memang gw persiapkan ketika gw sampai pada satu titik untuk menetap, dan mengakhiri pelayaran ini. Tapi, beberapa kali saat menulis hati ini masih gusar tentang Geneva, sepertinya gw merasakan memang ada yang salah dengan persepsi orang tentang Geneva. Semakin mengingat-ingat pembicaraan yang telah lalu mengenai Geneva gw semakin berfikir, orang-orang ini terlalu banyak menuntut, orang-orang ini hanya mau enaknya saja, mereka mau merasakan suatu keindahan tapi tidak pernah mau menanggung resiko yang terdapat didalamnya. Aneh, bahkan gw jadi teringat akan satu sosok pria cerdas nan rupawan berbicara banyak hal tentang Geneva. Dia mengaku tahu banyak mengenai Geneva, dia selalu semangat sekali ketika menceritakan keindahan alam sana, tapi sayang ketika gw tanya tentang ancaman yang ada, dia selalu menghindar, wajahnya langsung takut bagai banci yang tak tahu diri. Sungguh, kadang tidak habis pikir begitu banyak orang-orang berpakaian bagus nan apik tapi memiliki kedewasaan yang dangkal, selalu mau menang sendiri, pemakan daging saudara sendiri.

Semakin mengingat-ingat hal-hal yang berkaitan dengan Geneva, hati ini semakin penasaran dibuatnya.

Suatu hari ketika mengetahui kapal kami mendekati sebuah pelabuhan kecil, gw mengumpulkan semua awak kapal, dan mengumumkan bahwa pelayaran akan dilanjutkan menuju Geneva. Semua awak kapal terkaget-kaget….. tidak ada yang pernah menyangka gw akan berbicara itu sebelumnya. Melihat kekagetan mereka gw pun mengumumkan bahwa, bagi kalian yang menolak untuk ikut kalian bisa turun dipelabuhan berikutnya, dan gw akan membayar semua upah dan juga beberapa tanda terima kasih gw atas keikhlasan mereka bekerjasama dikapal ini.

Tiba di pelabuahan kecil itu, tersadar gw bahwa uang yang gw miliki hampir habis bahkan tidak mencukupi untuk membayarkan upah semua awak kapal beserta bonus mereka, karena awalnya gw gak menyangka kalau mereka akan mengundurkan diri semua. Tidak ada yang gw miliki lagi, selain kapal ini. Kebulatan tekad untuk dapat menyambangi Geneva yang membuat gw berani untuk menjual kapal satu-satunya ini agar bisa melunasi upah serta bonus para awak kapal. Sudah gw perhitungkan bahwa sisa penjualan kapal ini akan gw belikan sebuah perahu kecil yang cukup untuk dua orang. Selepas perpisahan gw dengan semua awak kapal, gw pun melanjutkan pelayaran ini. Pelayaran menuju Geneva dengan bermodalkan sebuah perahu kecil ini.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.