Hidup ini bagaikan mengarungi sebuah sungai, dimana terdapat banyak sekali tikungan, mulai dari tikungan tikungan yang tidak berarti hingga tikungan yang tajam. Setiap kita melewati sebuah tikungan maka kita akan menemui kehidupan baru, kehidupan yang merubah diri kita, entah menjadi baik atau semakin buruk.
Jumlah tikungan dalam sungai ini sungguh bergantung kepada diri kita masing-masing, sungguh bergantung kepada seberapa kemauan kita dan kepuasan kita dalam berlayar, adakalanya seseorang menemui banyak sekali tikungan hingga menjadi lupa akan seberapa jauh dia berlayar dan sampai manakah dia akan berlayar, tidak perduli seberapa deras arus, tidak perduli seberapa parah layar rusak, ia tetap melaju.
Tapi ada juga seseorang yang merasa cukup akan apa-apa yang sudah ada, ia tidak mau terlalu berlebihan dalam berlayar, karena mungkin ia tahu pelayaran ini akan berakhir dengan atau tanpa kehendak ia sendiri.
Setelah ia merasakan cukup atas jumlah tikungan yang ia lewati, maka ia akan berlabuh dan mencari sebuah lahan, lahan yang baik, lahan yang bisa membawa kebaikan pada dirinya dan untuk ladang itu sendiri, setelah pemilihan lahan selesai tugas selanjutnya adalah memproses lahan tersebut menjadi sebuah ladang yang menghasilkan hasil yang baik, tentunya hasil yang baik akan diproses dengan baik pula, dan ketika semua itu berakhir ia akan membawa ladang dan semua bibit unggulannya kepada sang pemilik lahan dan sungai, dan ia merasa sangat bangga atas apa yang telah dibawanya saat itu.


Renungan yang sangat dalam dan Bagus..Hukum menanam dan Perjalanan yg tiada henti
analogi tingkat tinggi
postingan yang bagus.. jadi inget kalo saya gak bisa berenang
mantabs gun postingannya… jadi kapan nih gun kita garap ladangnya bareng2 ? hue..hue
eMmm jd ngerasa gmn gitu.. tengkyu yah gun..
tunggu kelanjutannya ya……